Archive | Puisi Alam

Tapak Sepanjang Tembok Kota Seoul

Tapak Sepanjang Tembok Kota Seoul Tengsoe Tjahjono   Tapak menegak di gigil Naksan. Kota menyala kunang-kunang. Matahari tergelincir, ditanam ribuan gedung   tapak pertempuran dicatet selalu. Sepotong musim silih berganti bertandang di ruang tamu. Mengirimkan berita dan pergunjingan, remah-remah bunga dan daun gugur di tanah kering   di sepanjang tembok tertempel wajahmu, juga wajahku senja [...]

Read the full story

Posted in Puisi Alam, Puisi Cinta, Puisi Harapan, Puisi Reflektif0 Comments

BUJUR SANGKAR MUSIM

BUJUR SANGKAR MUSIM Tengsoe Tjahjono   pada sisi mana sebidang musim kamu letakkan. Hamparan kuning Canola bertumbuhan di mata. Seekor burung rela menunggu waktu membukakan kuncup menjadi kembang. Entah, pada sisi itu kamu di mana   siapa pun selalu menunggu. Menyusun kata cinta dalam guyuran Cherry Putih, Forsythias, Azaleas, dan bunga-bunga liar. Terbuka bersama kelopak, [...]

Read the full story

Posted in Prosa Lirik, Puisi Alam, Puisi Cinta, Puisi Kenangan, Puisi Luka, Puisi Reflektif0 Comments

TAHAJJUD PANTURA

TAHAJJUD PANTURA oleh: Mohammad Faizi Pariwisata Di sepertiga malam yang terakhir engkau menekur di atas sajadah, betapa indah kaulihat anak istrimu terlelap saat kaujaga kaukhusyuk dan tenang dalam berdoa Di sepertiga malam yang terakhir aku mengelih dengan tajam, betapa capai kulihat hanya kegelapan atau lampu kendaraan dipermainkan tempo lalu lintas yang sinkop ngebut di jalan [...]

Read the full story

Posted in Prosa Lirik, Puisi Alam, Puisi Cinta, Puisi Luka, Puisi Ma'af, Puisi Reflektif, Puisi Religi0 Comments

PELAUT

PELAUT PELAUT Tengsoe Tjahjono October 19, 2013 at 6:01am Pelaut itu hanya punya laut dan camar. Di mana berumah? Perahu telah diganti jembatan. Selat telah menjadi daratan. Dermaga tak lagi berjagak. Tak punya angkatan perang. ‘Nenek moyangku seorang pelaut’ siapa bilang. Nyanyian nina bobo yang menyakitkan. Masa lalu pantas dikenang, katamu. Untuk apa? Sriwijaya,Ujung Galuh, [...]

Read the full story

Posted in Puisi Alam, Puisi Reflektif0 Comments

LANGIT AMAT INDAH

LANGIT AMAT INDAH Lihatlah jauh, Sejauh batas anganmu Apayang kau cari Telah kau miliki Bersamamu tanpa kau sadari Ku yakin hujan kan berhenti Terpana indahnya mentari Kita yang menari Berlagu misteri yang tersingkap Tanpa tersadari Yang kurasakan tak mungkin kuingkari Di langit ini terlukis Hatiku… (Hatimu)… Dan birunya semakin biru Tak kan berhenti Seluas yang tak [...]

Read the full story

Posted in Puisi Alam0 Comments

Curhat Buat Sahabat

Curhat Buat Sahabat Oleh Dewi Lestari (DEE) Sahabatku, usai tawa ini Izinkan aku bercerita: Telah jauh, ku mendaki Sesak udara di atas puncak khayalan Jangan sampai kau di sana Telah jauh, ku terjatuh Pedihnya luka di dasar jurang kecewa Dan kini sampailah, aku disini… Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku Menanti seorang yang biasa saja [...]

Read the full story

Posted in Puisi Alam, Puisi Harapan, Puisi Sahabat0 Comments

KESUNYIAN MOUNA DALAM RUPA DAN KATA

KESUNYIAN MOUNA DALAM RUPA DAN KATA Tengsoe Tjahjono   Nyamuk yang terpasung Pada ranting kering pohon perdu Sebentar lagi redup dan menutup Tak perlu kautunggu   /1/ Mouna Be sebenarnya lebih dikenal sebagai perupa. Sejak 1996 ia sudah banyak terlibat dalam berbagai pameran. Lukisan Mouna cenderung murung dan sepi. Sebatang pohon dengan beberapa ranting dengan [...]

Read the full story

Posted in Puisi Alam0 Comments

SILENT SATURDAY

SILENT SATURDAY Hamiddin Angin berlari mengejar sisa musim Daun-daun tertunduk dalam geming Sabtu yang sepi Mengukur jarak antara pagi dan nafiri Begitu cepat percakapan kita terbagi Seperti mimpi Sabtu yang sunyi Menyisakan cerita-cerita misteri Semudah itukah kita melupakan kitab suci Dalam serpihan-serpihan birahi Silent Saturday Duduklah bersama rinduku Sebelum aku lebur dengan Alifku Malang, 22 [...]

Read the full story

Posted in Puisi Alam, Puisi Cinta, Puisi Rindu0 Comments

PADA MAGRIBMU

PADA MAGRIBMU Hamiddin Pada magribku Saat aku mengenang wajahmu yang berwarna keemasan Dimana perih dan kenangan telah rampung dalam percakapan Akupun menjelma daun-daun mahoni yang runtuh di jalan Dan kau lewat tanpa memungut satupun daun-daun itu, membiarkannya kesepian Pada magribmu Saat burung-burung melantunkan nafiri Kental kecupmu kembali menjelma bayang-bayang mimpi Saat itulah wangi tubuhmu kembali [...]

Read the full story

Posted in Prosa Lirik, Puisi Alam, Puisi Cinta, Puisi Harapan, Puisi Kesepian0 Comments

Karnaval Kata 14

Karnaval Kata 14   Dimana kini musim yang melumpuhkan kata-kataku Setelah engkau kusedu di secangkir rinduku Menjadi sajak berwindu-windu Atau menjadi sungai yang tak berhulu   Oh….. betulkah ini kisah Tertulis sebelum musim meresah Seperti embun yang tak basah Harus jatuh sebelum gundah   –akhir tahun ini, akhir detak jam di dinding, akhir siul kasuari, [...]

Read the full story

Posted in Puisi Alam0 Comments

Gabung di Facebook

Kumpulan Puisi